Kami Butuh Komitmen Jangka Panjang dari Pemerintah

Dita Ardonni Jafri, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia

 

Terbelit beragam persoalan, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ibarat menara mercusuar yang tak lagi memendarkan sinar pemandu. Tapi, harapan belum padam. Bagaimana langkah strukturisasi, asa, potensi, sekaligus tantangan kendala PT DI, berikut petikan wawancara wartawan Republika Palupi Annisa Auliani dengan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Dita Ardonni Jafri, Kamis (6/10):

Suntikan dana Pemerintah bakal memadai untuk penyelesaian restrukturisasi PT DI?

Tahun ini, 2011, kami dapat Rp 675 miliar. Lalu 2012, kami harapkan (dapat) Rp 2 triliun. Tapi, saya dengar dapat Rp 1 triliun pada 2012 dan Rp 1 triliun pada 2013. Cukup atau tidak kan tergantung, uang ini mau dipakai untuk usaha atau untuk gaji ? Kalau untuk gaji sih habis lagi nanti.

Utang ke Perusahaan Pengelola Aset (PPA), sekarang masih berapa?

Rp 675 miliar. Mudah-mudahan utang selesai tahun ini. Menurut saya, setelah uang, kami butuh pekerjaan.

Kondisi terakhir PT DI seperti apa? Juga kondisi SDM?

Terakhir, kami tinggal punya 4.000 orang (pegawai, dengan hanya) 800 engineer. Sebelumnya, kami punya 2.000 engineer.

Apa saja produk yang masih diproduksi atau punya potensi digarap?

N-250 sudah berhenti. Untuk menghidupkan lagi, biayanya gede. Kebanyakan komponen harus ganti vendor baru. Kelamaan. Untuk helikopter, semua lisensinya sudah habis. Kami (tinggal) punya CN235 dan Casa-212-400. Plus nanti N-219, kalau (modal) Rp 300 miliar dapat dan ada yang beli.

 

Untuk mendapatkan pekerjaan kami juga coba kerja sama dengan perusahaan yang ditunjuk PPA,  Airbus Military, salah satu ‘cucu’ perusahaan EADS. Kami sedang coba kerja sama di pesawat Casa 295 (C-295). Kami mengarah ke final assembly di Indonesia. Tapi, harus ada pembelian dalam negeri dulu. Ini yang lagi kejar-kejaran.

C-295 ini pesawat angkut kapasitas kurang dari 70 orang. CN-235 yang dipanjangin. Jadi, basic-nya adalah CN-235, (tapi) ganti engine, badan dipanjangin, wing tetap. Bisa bawa lebih banyak penumpang.

Kami juga ingin bangun lagi beberapa helikopter. Penawaran sudah banyak. Bell dan Eurocopter, misalnya. Korea juga menawarkan dan lebih menarik. (Korea) menawarkan final assembly, sedikit pengembangan di sini dan beberapa pasar di Afrika dan Timur Tengah dikasih ke kami. Eurocopter mungkin mau (juga) beri final assembly, tapi pasar terbatas di Indonesia.

Kalau pesawat tempur KF-X/IF-X yang kerja sama dengan Korea?

Indonesia menyebutnya IF-X. Kami hanya mengirim 23 engineer, sekarang sudah di Korea. Ini program Kementerian Pertahanan, kami hanya support, tidak kami hitung sebagai bisnis.

KF-X/IF-X ini proyek ‘menantang’ F-16 dan Sukhoi?

Pada 2025 (saat produksi), F-16 dan Sukhoi kan sudah produk zaman baheula.

Dengan produk yang ada dan rencana kerja ini, PT DI bisa bangkit lagi?

Hitung-hitungan saya, karena saya kenal CN-235, kalau bisa jual minimum enam CN-235 dalam setahun, (kami) survive. Asumsinya, nilai tambah kami kira-kira 38-40 persen, dari local content yang bisa kami lakukan. Enam CN-235 bisa menutup 60 persen (biaya) overheat kami, sisanya (ditutup) dari industri komponen.

Ekuivalennya dengan C-295, belum tahu. (Tapi) kalau C-295 final assembly bisa dilakukan di sini dan kira-kira local content juga sama, mungkin dengan menjual lima C-295 sudah ekuivalen enam CN-235 tadi.

Kalau N-219 (kebutuhan) pasar dalam negeri 97-an (unit). (Jumlah itu) bisa kami penuhi dalam lima tahun. Penerbangan perintis butuh 30 unit di tahap pertama.

Kalau CN-235, N-295, atau N-219 bisa jalan dan kami bisa bangun beberapa helikopter, cukup. Di samping itu ada industri komponen yang sudah jalan, yang bisa bantu kami (setara) gaji tiga bulan dalam setahun, 30 persen kira-kira.

Masih ada juga jasa perawatan. CN-235 yang tersebar di dunia, sebagian besar kami rawat. Kami juga bisa rawat Boeing 737. Nanti rencananya pun kami masuk ke Airbus, (untuk) Airbus 319-320. Itu dulu yang banyak (pesawatnya).

Selain itu, ada peluang di produk engineering. Rencana saya, dari 800 orang (engineer yang masih ada), 400 orang mau kami ‘jual’ untuk terima paket-paket pekerjaan dari Airbus. Saingan kita India. Nilai lebih kami, kami punya lengkap. Tinggal order general, kami sudah bisa melengkapi, mereka tak pusing lagi dengan manajemen.

Apa kendalanya?

Kami lihat pasar domestik sekarang tak punya rencana pembelian jangka panjang. (Misalnya untuk C-295), kami agak kesulitan mendapatkan komitmen final assembly di sini dari Airbus Military, kalau jumlah pembeliannya tak cukup.

Jumlah ‘cukup’ itu sekitar 20-an lah. Kami baru dapat enam. Kalau jumlah pembeli tak cukup, PT DI hanya akan jadi trading house. Pesawatnya tidak dibuat di sini, pemerintah kita beli, dan kita tak dapat apa-apa. Itu yang kami usahakan untuk bisa diatasi.

Untuk pesawat penerbangan perintis, ada ‘masalah’ soal tender pengelola per tahun. Ini agak susah bagi maskapai. Bagaimana harus investasi jangka pendek menyediakan pesawat? Ada alternatif solusi, sebenarnya. (Yaitu) Pemerintah yang punya pesawat, tendernya untuk pengelolaan saja. Subsidi fuel untuk penerbangan perintis dijadikan pesawat terbang. Jadi, yang disubsidi bukan fuel-nya, tapi ‘dikasih’ pesawat.

Juga ada kendala komitmen jangka panjang pemerintah yang jadi pasar dalam negeri kami. Untuk start pertama, kami butuh launching customer dan itu kami harapkan pemerintah. Bangun di sini dulu dengan minimum order dari pemerintah, untuk kemudian kami bisa mencari pasar di luar negeri. Kami juga harapkan pemerintah membuat semacam standardisasi (kebutuhan jenis pesawat dan helikopter). Misalnya kalau untuk helikopter kecil itu apa (jenisnya), menengah apa, berat apa.

Selama ini?

AL maunya Eurocopter, AD maunya Bell, polisi maunya lain lagi. Kalau ada standardisasi, katakanlah sekarang beli empat setahun, kita kumpulkan 10 tahun. (Kalau) ada komitmen 10 tahun, mungkin bisa 20-30 unit, dan itu dengan sendirinya semua bisa dibangun di sini.

Kami sudah coba tawarkan pemetaan dan kesiapan produksi. Budget pertahanan kecil, (tapi) kalau dikumpulkan (sebagai komitmen jangka panjang tadi), cukup kok. Untuk TNI saja, kira-kira (kebutuhannya) 90 helikopter. Tapi, masalahnya itu belum ada komitmennya. Nanti turun per tahun, yang harus lewat DPR dulu untuk penentuan anggaran. Bagaimana kita mau buat komitmen kalau kondisinya begini?

Jadi, masalah utamanya adalah komitmen dan rencana jangka panjang pemerintah?

Iya. Untuk tahap awal, kami butuh itu. Kalau sekarang kami cari ke pasar luar, jual CN-235 saja ada pertanyaan yang selalu tak bisa kami jawab, cuma satu. (Yaitu) ‘Pemerintah kalian pakai atau tidak ? Berapa pakainya  ? Cuma enam ?’ (Sementara) Malaysia pakai lebih banyak, beli dari kami juga. Korea juga lebih banyak. Pertanyaan selalu begitu. ‘Pemerintah kalian saja tak percaya pada kalian, apalagi kami,’ itulah kira-kira.

Kalau komitmen dan rencana jangka panjang itu ada, PT DI pasti hidup. Tidak usah dengan tambahan apa-apa, dengan yang ada saja dijadikan produk kami. Kalau kami punya garapan, dengan sendirinya yang lain sembuh sendiri. Tak usah suntik uang lagi. Kalau tidak dikasih pekerjaan cukup, dikasih uang akan habis terus.

Sepertinya cukup nyaman kerja sama dengan Airbus?

Kalau di produksi, selama ini yang mau kerja sama dengan kami baru EADS (Airbus itu, red). Yang lain hanya melibatkan kami dalam porsi pekerjaan kecil untuk bisa menjual produk mereka di sini. Kalau mau, pemerintah harus punya aturan konten dalam negeri seperti Turki atau Korea, yang menuntut minimum 50 persen.

Soal kehilangan SDM selama gonjang-ganjing PT DI kemarin, ada strategi untuk mengatasinya?

Ya, kehilangan kita sudah banyak. (Padahal) yang susah di industri penerbangan itu engineering-nya, yang tidak semua negara-produsen pesawat sekalipun-punya. Ini yang dibangun Pak Habibie dengan susah payah. Untuk mempertahankan (yang tertinggal), saya butuh N-219, pengembangan pesawat satu cycle. Kalau KF-X/IF-X kok kelamaan karena baru 2025 bisa produksi.

Kalau Kementerian Perindustrian bisa keluarkan dananya awal tahun depan, kami bisa mulai N-219 dan 2014 bisa jadi satu unit. Sampingannya, begitu N-219 jalan, kami akan rekrut engineer muda, kalau bisa kami pakai yang ada di BPPT dan Lapan. Syukur, kalau amanat UU 1/2009 bisa dijalankan, soal tanggung jawab pemerintah terhadap industri penerbangan nasional.

Soal mesin produksi yang sudah tua, itu tak akan jadi kendala?

Kami sudah mulai peremajaan enam bulan terakhir. Pembelian mesin.

Ada kendala lain?

Riset dan industri tak ada koordinasi. Sekarang, yang namanya seal karet pesawat terbang saja, itu impor. Padahal, kita bisa buat, tapi tak ada yang berani approve. Yang bisa approve ini kan badan regulator kita, yang seharusnya didekatkan dengan lembaga riset. Lakukanlah riset bagaimana caranya agar barang ini bisa di-approve. Selama tak ada yang approve, tak ada yang lindungi produksi itu, (industri) tak berkembang.

Kemungkinan terburuk untuk PT DI?

Kalau mau dijual, ada kemungkinan diambil EADS dijadikan industri komponen. Tapi, dijadikan industri komponen, engineer kita dihabisin. Kalau namanya engineering pesawat terbang itu bisa dibawa ke mana saja, bisa jadi industri pertahanan. Core-nya begitu, tapi harus dibantu industri otomotif dan elektronik, seperti di Korea. Yang kita kuasai hanya airframe, nilainya paling hanya 20 persen dari nilai pesawat. ed: nidia zuraya

Biodata

Nama: Dita Ardonni Jafri                                          

Tempat / tanggal lahir: Padang, Sumatra Barat/12 Desember 1958.

Jabatan: Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia.

Pengalaman kerja:

–       Berpengalaman 22 tahun di industri pesawat terbang.

–       Dua tahun bekerja sebagai Stress and Design Engineer di Fokker Aircraft.

–       Terlibat langsung dalam proyek N-250 dan CN-235 produk IPTN, nama perusahaan sebelum menjadi PT Dirgantara Indonesia.

–       Sebelum jabatan saat ini, 2007-201i0 sebagai direktur Aircraft Services PT Dirgantara Indonesia

Pendidikan:

–       Master dari Delft University of Technology, Belanda. Dengan tesis: ‘Aircraft Structural Design, Composite Material and Computerized Structural Optimization’.

–       Airplane Design Course – University of Kansas, Lawrence- Kansas

Capaian:

–       DGAC Approved for Maintenance, Repair and Overhaul for Boeing 737-200 Aircraft (CASR 145)

–       DGAC Approved for A/C component distributor (CASR 57)

–       Sold one CASA-212-200 to SMAC

–       CN 235-220 Flight Simulator – Contracted with Malaysian AirForce (9 juta dolar AS).

–       Modification of the 9 CN 235-100 Aircraft to be Maritime Patrol and Maritime Surveillance Aircraft (Meltem Program) – Contracted with Turkish Government (15 juta dolar AS).

–       Design Modification of Iran-140 (Antonov-140) to be Light Tactical Transport Aircraft and Maritime Patrol Aircraft – Contracted with Iran Minister of Defense (40 juta dolar AS).

–       Various Contract for Engineering Services with Caltex, Pertamina, Krakatau Steel, PGN, PLN, TNI.

–       Responsible for design and optimization of the Fokker F-50 Rear Cargo Compartment Door.

sumber: REPUBLIKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s